Minggu, 29 April 2012

Jali dengan sejarahnya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

?Jali
Jalijali.png
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Coix
Spesies: C. lacryma-jobi
Nama binomial
Coix lacryma-jobi
L.
Jali (Coix lacryma-jobi L.), merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian (serealia) tropika dari suku padi-padian atau Poaceae. Asalnya adalah Asia Timur dan Malaya namun sekarang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa varietas memiliki biji yang dapat dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan juga obat. Bulir yang masak terbungkus struktur yang keras, berbentuk oval dan berwarna putih.
Ada dua varietas yang ditanam orang. Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi memiliki cangkang (pseudokarpium) keras berwarna putih, bentuk oval, dan dipakai sebagai manik-manik. Coix lacryma-jobi var. ma-yuen dimakan orang dan juga menjadi bagian dari tradisi pengobatan Tiongkok.
Walaupun sekarang jali nyaris tidak lagi dikonsumsi, tumbuhan ini masih dikenal orang, seperti dalam lagu gambang kromong "Jali-jali". Di perdagangan internasional ia dikenal sebagai Chinese pearl wheat (gandum mutiara Cina), walaupun ia lebih dekat kekerabatannya dengan jagung daripada gandum.
Nah sedangkan untuk biji jali yang digunakan sebagai bahan baku aksesoris adalah varietas Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi karena cangkangnya yang keras dan tahan lama sehingga cocok untuk dijadikan sebagai aksesoris. Masyarakat Indonesia biasa menyebutnya dengan sebutan jali batu karena teksturnya yang keras.
Biasanya jenis jali batu tumbuh liar. Sebab tanamannya membentuk rimpang yang mampu bertahan pada musim kemarau. Pada musim penghujan, rimpang jali batu ini akan tumbuh lagi untuk membentuk rumpun baru. Tanaman jali batu tumbuh lebih pendek, namun dengan rumpun lebih padat. Batang jali batu hijau gelap. Tinggi tanaman jali batu hanya sekitar 1 m, dengan jumlah tanaman dalam tiap rumpun mencapai belasan individu. Daun tanaman jali batu lebar, pinggirnya menggelombang dan warnanya hijau gelap. Lebar helai daun 5 cm, dengan panjang 60 m. Daun tumbuh pada tiap ruas batang dengan membentuk seludang (pelepah daun).
Bunga jali berupa malai seperti halnya padi dan sorgum. Malai tumbuh pada ujung batang. Panjang malai jali batu hanya sekitar 15 cm. Pada ujung malai itulah akan tumbuh bunga jali yang lengkap dengan putik serta benangsari. Tiap bunga akan menghasilkan satu biji jali. Dalam satu malai bunga jali batu terdapat antara 20 sd. 30 butir biji jali. Biji jali berbentuk lonjong dengan ujung agak meruncing dan pangkal biji lebih tumpul. Diameter biji hanya sekitar 7 mm.
Kulit biji jali batu sangat tebal dan keras. Warnanya abu-abu kehitaman, biru sampai putih. Permukaan kulit biji licin mengkilap. Itulah sebabnya biji jali batu banyak dimanfaatkan untuk dirangkai menjadi gelang, kalung dan tasbih. Biji jali memiliki kelebihan untuk dirangkai  karena ujung dan pangkalnya lebih mudah ditusuk dan dimasuki benang atau kenur. Lain halnya dengan biji kana (ganyong) atau saga pohon yang seluruh kulit bijinya sangat keras, hingga harus dibor sebelum ditusuk untuk dimasuki benang atau kenur.

Tanaman jali bisa tumbuh pada segala jenis tanah, mulai dari ketinggian 0 m dpl. sampai 1.500 m dpl. Pertumbuhan optimal akan diperoleh melalui budidaya pada lahan bertanah liat, pasir atau vulkanis dengan kandungan unsur hara tinggi. Ketinggian lahan untuk mencapai pertumbuhan optimal antara 500 sd. 700 m dpl. Lahan untuk budidaya jali memerlukan pengolahan ringan. Penanaman dilakukan dengan membuat larikan untuk menaruh biji, baru kemudian ditimbun tanah. Bisa pula dengan melakukan penugalan. Jarak tanam, 25 X 75 cm. Hingga populasi tanaman per hektar mencapai 50.000 rumpun.
Jali batu relatif tahan hujan dan genangan, namun kurang tahan terhadap kekeringan. Umur tanaman jali antara 6 sd. 7 bulan semenjak biji ditanam. Penanaman dilakukan pada awal musim penghujan. Di Jawa, biasanya penanaman jali dilakukan pada bulan Oktober atau November. Panen dilakukan antara bulan April sd. Mei. Penanaman pada musim gadu (bulan Februari) akan bisa dipanen antara bulan Agustus sd. September. Daun jali hanya bisa dimanfaatkan untuk mulsa sebab ternak kurang menyukainya. Sementara batangnya yang keras dan agak kuat meskipun tetap bergabus, sering dimanfaatkan petani sebagai ajir tanaman buncis, tomat dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar